Tips Mengirim Naskah ke Penerbit!
Sebelum nama mereka melambung berkat novel-novel yang ditulis, JK. Rowling dan Stephen King melakukannya. Sebelum kisah pendakian 5 sahabat ke Mahameru mengharubirukan para remaja, Donny Dhirgantoro juga melakukan hal ini. Apa itu? Ya, mengirim naskah. Tepatnya, mengirimkan naskah ke penerbit buku.
Jika kamu berpikir untuk menjadi seorang penulis dengan karya yang dibaca secara luas, hal pertama (tentu saja, setelah naskah kamu jadi) yang perlu dilakukan adalah mengirimkan naskahmu ke penerbit. Penerbit akan menerima naskahmu dan membaca dengan saksama. Orang yang memeriksa pantas atau tidaknya naskahmu adalah para editor. Jika editor merasa naskahmu layak untuk diterbitkan, mereka akan menghubungimu, dan tak berapa lama, naskahmu akan beralihrupa menjadi buku yang dapat ditemui di toko-toko buku.
Meski demikian, banyak yang belum sadar, bahwa ada hal-hal yang perlu kamu indahkan ketika mengirim naskah tersebut. Persis seperti membuat lamaran kerja, mengirimkan naskah berarti menawarkan naskahmu dengan sebaik-baiknya dan sesempurna mungkin, sehingga penerbit akan berpikir bahwa naskahmu adalah naskah paling menjanjikan yang pernah mereka dapatkan. Ya, kamu memang harus “menampilkan” naskahmu sebaik mungkin, sebab kamu bersaing dengan puluhan bahkan ratusan naskah lain.
Bagaimana caranya?
1. Pilihan font dan spasi yang baik
Beberapa penerbit memang telah membuat aturan tentang format naskah, termasuk dalam hal ini tentang ukuran/pilihan font serta besar spasi. Namun, jika belum, hendaknya kamu memperhatikan hal ini.
- Gunakan font yang umum, sebab font yang dekoratif cenderung membuat mata capai. Font yang umum meliputi: Times New Roman, Garamond, Calibri, Cambria, Book, Arial, atau Book Antiqua. Contoh font yang dekoratif adalah: Comic Sans, Mistral, atau Lucida Handwriting.
- Gunakan ukuran huruf dan spasi yang layak baca, (lagi-lagi) supaya editor tidak capai membaca. Ukuran huruf yang layak adalah 10 – 12 pt (menyesuaikan dengan besarnya karakter font). Sementara, ukuran spasi yang layak antara 1,15 – 2.
- Susunlah urutan bab dan sub-bab dengan tabulasi yang baik. Tabulasi (tab), sederhananya, adalah pengaturan jarak tubuh paragraf dari batas kiri. Biasanya, sub-bab diatur masuk beberapa sentimeter.
Untuk format digital, sebaiknya kamu tidak mengirim dalam format .doc (Microsoft Words), melainkan dalam format .pdf (Adobe). Selain supaya rapi, format .pdf tidak memungkinkan naskahmu “rusak” atau “berubah”.
2. Sinopsis yang singkat dan jelas
Sinopsis adalah rangkuman naskahmu? Tidak sepenuhnya benar. Kecenderungan kita, ketika merangkum suatu karya, adalah ingin memasukkan sebanyak-banyaknya informasi, dan akhirnya menjadi sebuah tulisan yang berjejalan dengan ide. Akibatnya, tulisan tersebut jadi sangat tidak nyaman dibaca (oleh editor).
Untuk menghindari hal tersebut, bayangkanlah sinopsis sebagai iklan 5 menit. Apa yang kamu lakukan dalam waktu yang terbatas itu untuk menceritakan naskahmu?
- Taruh plot utama/premis di bagian paling awal. Plot atau premis adalah garis besar isi naskahmu. Maksimal dalam 2 kalimat.
- Ceritakan perkembangan jalan cerita dalam bukumu, yaitu bagaimana karakter tokoh utama, bagaimana ia menyelesaikan konflik yang terjadi, dan semacamnya.
- Tunjukkan pendekatan yang “fresh” atau unik dalam buku ini. Editor pasti mencari yang tidak biasa.
- Tulislah dengan jelas dan tanpa cacat penulisan, untuk menunjukkan kualitas kepenulisanmu.
- Sinopsis hendaknya tidak lebih dari 1 halaman.
3. Proposal yang meyakinkan
Selain menyertakan sinopsis, kamu juga wajib menyertakan proposal. Proposal adalah sebuah tulisan singkat yang ditujukan pada editor, yang isinya mengutarakan keinginan kamu untuk menerbitkan naskah ini, dan alasan-alasan naskah ini pantas untuk diterbitkan.
Bagian terpenting dari proposal adalah “siasat” kamu untuk menjelaskan mengapa naskah ini pantas. Maka itu, jawablah dengan menjelaskan 3 hal berikut.
- Siapa pembaca buku Anda?Jelaskan pada editor, siapa yang berpotensi mencari dan membaca bukumu. Jelaskan secara spesifik, meliputi: umur (remaja, dewasa), gender (wanita, laki-laki), komunitas tertentu. Jangan lupa, tunjukkan pula alasannya.
- Mengapa buku ini spesial? Dalam hal ini, kamu perlu sadar akan pesaing. Tunjukkan buku-buku pesaing, dan apa yang menjadikan bukumu lebih menjanjikan dari buku yang lain. Editor akan melihat sejauh mana kamu menguasai bidang/genre yang kamu pilih. Dalam hal ini, kamu bisa menunjukkan bagian unik yang jadi kekuatan bukumu.
- Siapa saya? Kecuali kamu adalah milyuner, selebritas, atau tokoh penting lainnya, kamu tetap harus “mengenalkan” dirimu. Pastikan editor tahu latar belakang kompetensimu. Sertakan pula aktivitasmu baik di komunitas ataupun di dunia maya (jumlah follower twitter, facebook).
4. Pembukaan yang memikat
Seorang editor tidak memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang membaca naskah yang masuk. Selain ada banyak naskah lain, editor pun memiliki tugas lainnya, yaitu mengedit naskah. Kemungkinan besar, editor mengendus naskah yang baik dengan membaca 3-4 paragraf pertama. Maka buatlah pembukaan yang memikat.
5. Tulisan yang bersih
Setiap editor tidak ingin menangani naskah yang penuh dengan kesalahan ejaan, atau tata kalimat. Waktu mereka tidak banyak, maka sangat menjemukan kalau dihabiskan untuk menangani kesalahan-kesalahan yang remeh seperti itu. Pastikan kamu memeriksa dengan teliti, sehingga tulisanmu benar-benar bersih.
Kalau kamu sudah siap dengan hal-hal di atas, artinya kamu sudah siap untuk menjadi penulis. Buruan kirim naskahmu! Ada komentar, atau ada pengalaman lain? Jangan ragu untuk share di kolom comment di bawah ini.